My Story

S

S

aya akan menceritakan pengalaman saya menerbit-kan buku saya yang pertama. Yang berjudul “Jatuh Itu Biasa Bangun Lagi Baru Luar Biasa“. Panjang ya judulnya… hehehehe, awalnya sebenarnya judulnya “Jatuh Ya Bangun Lagi“ Tetapi tenyata dirubah oleh penerbit Kaukaba yang menerbitkan buku saya saat itu.

Buku itu saya tulis di saat saya galau berat, hampir menyerah untuk meraih impian saya. Usaha saya baru saja mengalami kebangkrutan. Sampai-sampai printer, sound system di kantor saya diangkutin sama karyawan saya buat bayar gaji mereka.

Gitu aja ya ceritanya, kalau diceritain semua bisa sedih, kalau sedih gak jadi deh sharing tentang kepenulisan… hehehehe. Jadi saat saya jatuh itu, saya diajak sama teman-teman saya untuk belajar lagi. Ikut berbagai seminar. Nah, setiap kali ikut seminar, yang saya tanyakan kepada pemateri adalah apakah yang mereka lakukan saat jatuh? bagaimana cara mereka untuk bangun lagi?

Dari banyak sekali motivator, mentor bisnis, dll memberi jawaban yang berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman mereka. Akhirnya, saya kepikiran untuk membukukan ilmu pengetahuan tentang kegagalan ini. Karena saya ingat, salah satu list impian saya adalah menjadi penulis.

Akhirnya, dengan semangat 45, saya mulai menulis. Waktu itu, saya tidak punya apa-apa. Tidak punya PC, laptop, Tablet, atau Notebook. Jadi saya menulis di buku tulis adik saya yang masih SD. Jadi yang sekarang punya semua fasilitas untuk menulis, bersyukurlah, dan mulailah menulis, jangan banyak alasan.

Buku itu saya selesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan. Mungkin cepat karena saya sudah menguasai materi yang saya tulis, dan saya konsisten untuk menulis. Akhirnya, dari tulisan tangan di buku tulis itu harus diketik ke laptop. Akhirnya saya meminjam laptop sepupu saya, dan dibantu mengetik sepupu saya tersebut. Alhamdulillah….

Akhirnya, buku itu selesai juga. Lalu saya kirimkan ke beberapa teman, tokoh dan guru saya. Saya minta testimoni mereka. Karena mereka orang sibuk semua, akhirnya lamaaaa sekali mereka memberikan testimoni. Karena sudah tidak sabar lagi, akhirnya nekat saya kirimkan naskah saya yang belum diediting, belum saya cek lagi itu ke banyak penerbit.

Rata-rata penerbit berjanji akan memberi kabar setelah tiga bulan. Lamaaaaa banget menurut saya. Puluhan penerbit yang saya kirimi naskah saya. Setelah tiga bulan, ternyata gak ada kabar sama sekali dari para penerbit itu. Hadeuh.. Udah nunggu lama banget, eh, ternyata gak ada keputusan sama sekali.

Kemudian, di suatu hari yang cerah, ada email masuk yang subjeknya “keputusan naskah”. Wah senang sekali waktu itu.Ada juga penerbit yang memberikan balasan. Tetapi, hari yang cerah itu berubah jadi badai… karena ternyata saya mendapat surat seperti ini.

PUBLISHING DIVISION

PT GRAFINDO MEDIA PRATAMA

Jalan Pasirwangi 1 (Pasirluyu) Soekarno Hatta, Bandung – 40254

Telp (022) 5206178, 5226062, Faks. (022) 5202714

Perihal : Review Naskah Bandung, 18 Maret 2013

Kepada Yth.

Bapak Widi Yuritama Putra

Jl. Sambirobyong 112 A Purbosuman, Ponorogo

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dengan hormat, semoga kesuksesan senantiasa mengiringi aktivitas Bapak sehari-hari.

Kami sudah menerima naskah Bapak yang berjudul Jatuh? Ya Bangun Lagi, dan mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kami. Sungguh ini merupakan usaha yang tidak mudah dan kami sangat menghargainya, namun dengan sangat menyesal kami BELUM BISA menerbitkan naskah tersebut karena belum sesuai dengan minat dan agenda penerbitan kami saat ini.

Adapun beberapa alasan yang melatarbelakangi ketidakcocokan naskah yang Bapak kirim dengan kami, antara lain:

  1. Isi buku tidak memunculkan satu “tema berbeda” yang bisa ditonjolkan.
  2. Kurang ada kebaruan dalam gagasan dan penyajian tulisan naskah.

Kami mohon maaf bila informasi ini kurang berkenan. Pintu redaksi kami senantiasa terbuka untuk karya Bapak selanjutnya. Selamat berkarya.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Hormat kami,

Tim Redaksi Buku Umum

Grafindo-Salamadani

Lemes deh, tapi saya pantang putus asa. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan SMS dari Diva press, ternyata naskah saya ditolak juga. Tapi akhirnya, ada editor dari penerbit Pohon cahaya yang baik sekali membantu saya menyempurnakan naskah saya. Tetapi sekarang orangnya sudah tidak bekerja di Pohon Cahaya lagi. Sekarang kita berteman, Dia juga sudah membuat perusahaan penerbitan sendiri.

Dari beliaulah saya tahu apa kekurangan naskah saya, apa yang harus saya lengkapi, dll. Walaupun akhirnya saya tidak jadi menerbitkan naskah saya di Pohon Cahaya, tetapi saya sangat terbantu sekali. Nah di buku ini akan saya bocorkan apa aja yang membuat naskah saya tidak bisa diterima penerbit mayor.

Setelah saya perbaiki, lalu saya kirimkan ke salah satu penerbit yang belum saya kirimkan naskah saya. Dan.. eng.. ing.. eng…. saya dapat surat cinta.. hehehehe.. gak lah. Saya dapat surat yang begitu indah. Penasaran, apa suratnya? Ini saya beritahukan suratnya.

 

Akhirnya naskah saya diterima juga. Langsung sujud syukur waktu itu. Parahnya, waktu itu saya membuka email di kantor teman saya. Ya malu deh, sujud syukur dilihatin banyak orang. Tapi masa bodo yang penting buku saya terbit.

Dan Inilah buku yang saya tunggu – tunggu kelahirannya….

Ini Buku Saya Waktu terpajang di Gramedia
Dan Ini Foto – foto buku saya dengan para pembaca

aya akan menceritakan pengalaman saya menerbit-kan buku saya yang pertama. Yang berjudul “Jatuh Itu Biasa Bangun Lagi Baru Luar Biasa“. Panjang ya judulnya… hehehehe, awalnya sebenarnya judulnya “Jatuh Ya Bangun Lagi“ Tetapi tenyata dirubah oleh penerbit Kaukaba yang menerbitkan buku saya saat itu.

Buku itu saya tulis di saat saya galau berat, hampir menyerah untuk meraih impian saya. Usaha saya baru saja mengalami kebangkrutan. Sampai-sampai printer, sound system di kantor saya diangkutin sama karyawan saya buat bayar gaji mereka.

Gitu aja ya ceritanya, kalau diceritain semua bisa sedih, kalau sedih gak jadi deh sharing tentang kepenulisan… hehehehe. Jadi saat saya jatuh itu, saya diajak sama teman-teman saya untuk belajar lagi. Ikut berbagai seminar. Nah, setiap kali ikut seminar, yang saya tanyakan kepada pemateri adalah apakah yang mereka lakukan saat jatuh? bagaimana cara mereka untuk bangun lagi?

Dari banyak sekali motivator, mentor bisnis, dll memberi jawaban yang berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman mereka. Akhirnya, saya kepikiran untuk membukukan ilmu pengetahuan tentang kegagalan ini. Karena saya ingat, salah satu list impian saya adalah menjadi penulis.

Akhirnya, dengan semangat 45, saya mulai menulis. Waktu itu, saya tidak punya apa-apa. Tidak punya PC, laptop, Tablet, atau Notebook. Jadi saya menulis di buku tulis adik saya yang masih SD. Jadi yang sekarang punya semua fasilitas untuk menulis, bersyukurlah, dan mulailah menulis, jangan banyak alasan.

Buku itu saya selesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan. Mungkin cepat karena saya sudah menguasai materi yang saya tulis, dan saya konsisten untuk menulis. Akhirnya, dari tulisan tangan di buku tulis itu harus diketik ke laptop. Akhirnya saya meminjam laptop sepupu saya, dan dibantu mengetik sepupu saya tersebut. Alhamdulillah….

Akhirnya, buku itu selesai juga. Lalu saya kirimkan ke beberapa teman, tokoh dan guru saya. Saya minta testimoni mereka. Karena mereka orang sibuk semua, akhirnya lamaaaa sekali mereka memberikan testimoni. Karena sudah tidak sabar lagi, akhirnya nekat saya kirimkan naskah saya yang belum diediting, belum saya cek lagi itu ke banyak penerbit.

Rata-rata penerbit berjanji akan memberi kabar setelah tiga bulan. Lamaaaaa banget menurut saya. Puluhan penerbit yang saya kirimi naskah saya. Setelah tiga bulan, ternyata gak ada kabar sama sekali dari para penerbit itu. Hadeuh.. Udah nunggu lama banget, eh, ternyata gak ada keputusan sama sekali.

Kemudian, di suatu hari yang cerah, ada email masuk yang subjeknya “keputusan naskah”. Wah senang sekali waktu itu.Ada juga penerbit yang memberikan balasan. Tetapi, hari yang cerah itu berubah jadi badai… karena ternyata saya mendapat surat seperti ini.

PUBLISHING DIVISION

PT GRAFINDO MEDIA PRATAMA

Jalan Pasirwangi 1 (Pasirluyu) Soekarno Hatta, Bandung – 40254

Telp (022) 5206178, 5226062, Faks. (022) 5202714

Perihal : Review Naskah Bandung, 18 Maret 2013

Kepada Yth.

Bapak Widi Yuritama Putra

Jl. Sambirobyong 112 A Purbosuman, Ponorogo

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dengan hormat, semoga kesuksesan senantiasa mengiringi aktivitas Bapak sehari-hari.

Kami sudah menerima naskah Bapak yang berjudul Jatuh? Ya Bangun Lagi, dan mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kami. Sungguh ini merupakan usaha yang tidak mudah dan kami sangat menghargainya, namun dengan sangat menyesal kami BELUM BISA menerbitkan naskah tersebut karena belum sesuai dengan minat dan agenda penerbitan kami saat ini.

Adapun beberapa alasan yang melatarbelakangi ketidakcocokan naskah yang Bapak kirim dengan kami, antara lain:

  1. Isi buku tidak memunculkan satu “tema berbeda” yang bisa ditonjolkan.
  2. Kurang ada kebaruan dalam gagasan dan penyajian tulisan naskah.

Kami mohon maaf bila informasi ini kurang berkenan. Pintu redaksi kami senantiasa terbuka untuk karya Bapak selanjutnya. Selamat berkarya.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Hormat kami,

Tim Redaksi Buku Umum

Grafindo-Salamadani

Lemes deh, tapi saya pantang putus asa. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan SMS dari Diva press, ternyata naskah saya ditolak juga. Tapi akhirnya, ada editor dari penerbit Pohon cahaya yang baik sekali membantu saya menyempurnakan naskah saya. Tetapi sekarang orangnya sudah tidak bekerja di Pohon Cahaya lagi. Sekarang kita berteman, Dia juga sudah membuat perusahaan penerbitan sendiri.

Dari beliaulah saya tahu apa kekurangan naskah saya, apa yang harus saya lengkapi, dll. Walaupun akhirnya saya tidak jadi menerbitkan naskah saya di Pohon Cahaya, tetapi saya sangat terbantu sekali. Nah di buku ini akan saya bocorkan apa aja yang membuat naskah saya tidak bisa diterima penerbit mayor.

Setelah saya perbaiki, lalu saya kirimkan ke salah satu penerbit yang belum saya kirimkan naskah saya. Dan.. eng.. ing.. eng…. saya dapat surat cinta.. hehehehe.. gak lah. Saya dapat surat yang begitu indah. Penasaran, apa suratnya? Ini saya beritahukan suratnya.

Akhirnya naskah saya diterima juga. Langsung sujud syukur waktu itu. Parahnya, waktu itu saya membuka email di kantor teman saya. Ya malu deh, sujud syukur dilihatin banyak orang. Tapi masa bodo yang penting buku saya terbit.

Dan Inilah buku yang saya tunggu – tunggu kelahirannya….

Ini Buku Saya Waktu terpajang di Gramedia
Dan Ini Foto – foto buku saya dengan para pembaca

S

aya akan menceritakan pengalaman saya menerbit-kan buku saya yang pertama. Yang berjudul “Jatuh Itu Biasa Bangun Lagi Baru Luar Biasa“. Panjang ya judulnya… hehehehe, awalnya sebenarnya judulnya “Jatuh Ya Bangun Lagi“ Tetapi tenyata dirubah oleh penerbit Kaukaba yang menerbitkan buku saya saat itu.

Buku itu saya tulis di saat saya galau berat, hampir menyerah untuk meraih impian saya. Usaha saya baru saja mengalami kebangkrutan. Sampai-sampai printer, sound system di kantor saya diangkutin sama karyawan saya buat bayar gaji mereka.

Gitu aja ya ceritanya, kalau diceritain semua bisa sedih, kalau sedih gak jadi deh sharing tentang kepenulisan… hehehehe. Jadi saat saya jatuh itu, saya diajak sama teman-teman saya untuk belajar lagi. Ikut berbagai seminar. Nah, setiap kali ikut seminar, yang saya tanyakan kepada pemateri adalah apakah yang mereka lakukan saat jatuh? bagaimana cara mereka untuk bangun lagi?

Dari banyak sekali motivator, mentor bisnis, dll memberi jawaban yang berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman mereka. Akhirnya, saya kepikiran untuk membukukan ilmu pengetahuan tentang kegagalan ini. Karena saya ingat, salah satu list impian saya adalah menjadi penulis.

Akhirnya, dengan semangat 45, saya mulai menulis. Waktu itu, saya tidak punya apa-apa. Tidak punya PC, laptop, Tablet, atau Notebook. Jadi saya menulis di buku tulis adik saya yang masih SD. Jadi yang sekarang punya semua fasilitas untuk menulis, bersyukurlah, dan mulailah menulis, jangan banyak alasan.

Buku itu saya selesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan. Mungkin cepat karena saya sudah menguasai materi yang saya tulis, dan saya konsisten untuk menulis. Akhirnya, dari tulisan tangan di buku tulis itu harus diketik ke laptop. Akhirnya saya meminjam laptop sepupu saya, dan dibantu mengetik sepupu saya tersebut. Alhamdulillah….

Akhirnya, buku itu selesai juga. Lalu saya kirimkan ke beberapa teman, tokoh dan guru saya. Saya minta testimoni mereka. Karena mereka orang sibuk semua, akhirnya lamaaaa sekali mereka memberikan testimoni. Karena sudah tidak sabar lagi, akhirnya nekat saya kirimkan naskah saya yang belum diediting, belum saya cek lagi itu ke banyak penerbit.

Rata-rata penerbit berjanji akan memberi kabar setelah tiga bulan. Lamaaaaa banget menurut saya. Puluhan penerbit yang saya kirimi naskah saya. Setelah tiga bulan, ternyata gak ada kabar sama sekali dari para penerbit itu. Hadeuh.. Udah nunggu lama banget, eh, ternyata gak ada keputusan sama sekali.

Kemudian, di suatu hari yang cerah, ada email masuk yang subjeknya “keputusan naskah”. Wah senang sekali waktu itu.Ada juga penerbit yang memberikan balasan. Tetapi, hari yang cerah itu berubah jadi badai… karena ternyata saya mendapat surat seperti ini.

PUBLISHING DIVISION

PT GRAFINDO MEDIA PRATAMA

Jalan Pasirwangi 1 (Pasirluyu) Soekarno Hatta, Bandung – 40254

Telp (022) 5206178, 5226062, Faks. (022) 5202714

Perihal : Review Naskah Bandung, 18 Maret 2013

Kepada Yth.

Bapak Widi Yuritama Putra

Jl. Sambirobyong 112 A Purbosuman, Ponorogo

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dengan hormat, semoga kesuksesan senantiasa mengiringi aktivitas Bapak sehari-hari.

Kami sudah menerima naskah Bapak yang berjudul Jatuh? Ya Bangun Lagi, dan mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kami. Sungguh ini merupakan usaha yang tidak mudah dan kami sangat menghargainya, namun dengan sangat menyesal kami BELUM BISA menerbitkan naskah tersebut karena belum sesuai dengan minat dan agenda penerbitan kami saat ini.

Adapun beberapa alasan yang melatarbelakangi ketidakcocokan naskah yang Bapak kirim dengan kami, antara lain:

  1. Isi buku tidak memunculkan satu “tema berbeda” yang bisa ditonjolkan.
  2. Kurang ada kebaruan dalam gagasan dan penyajian tulisan naskah.

Kami mohon maaf bila informasi ini kurang berkenan. Pintu redaksi kami senantiasa terbuka untuk karya Bapak selanjutnya. Selamat berkarya.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Hormat kami,

Tim Redaksi Buku Umum

Grafindo-Salamadani

Lemes deh, tapi saya pantang putus asa. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan SMS dari Diva press, ternyata naskah saya ditolak juga. Tapi akhirnya, ada editor dari penerbit Pohon cahaya yang baik sekali membantu saya menyempurnakan naskah saya. Tetapi sekarang orangnya sudah tidak bekerja di Pohon Cahaya lagi. Sekarang kita berteman, Dia juga sudah membuat perusahaan penerbitan sendiri.

Dari beliaulah saya tahu apa kekurangan naskah saya, apa yang harus saya lengkapi, dll. Walaupun akhirnya saya tidak jadi menerbitkan naskah saya di Pohon Cahaya, tetapi saya sangat terbantu sekali. Nah di buku ini akan saya bocorkan apa aja yang membuat naskah saya tidak bisa diterima penerbit mayor.

Setelah saya perbaiki, lalu saya kirimkan ke salah satu penerbit yang belum saya kirimkan naskah saya. Dan.. eng.. ing.. eng…. saya dapat surat cinta.. hehehehe.. gak lah. Saya dapat surat yang begitu indah. Penasaran, apa suratnya? Ini saya beritahukan suratnya.

Akhirnya naskah saya diterima juga. Langsung sujud syukur waktu itu. Parahnya, waktu itu saya membuka email di kantor teman saya. Ya malu deh, sujud syukur dilihatin banyak orang. Tapi masa bodo yang penting buku saya terbit.

Dan Inilah buku yang saya tunggu – tunggu kelahirannya….

Ini Buku Saya Waktu terpajang di Gramedia
Dan Ini Foto – foto buku saya dengan para pembaca

 

Questions